Cerita Abu Nawas : Dituduh Mencuri
Abu Nawas memang sangat terkenal dengan kecerdikannya dalam memecahkan masalah yang pelik. Begitu juga dengan kisah yang satu ini , Abu Nawas ditimpa masalah , difitnah dan dituduh mencuri.
Akankah Abu Nawas mampu menyelesaikan perkara ini? Berikut kisahnya.
Pada suatu hari , si Fulan datang ke istana Raja Harun Ar Rasyid. Dia ini diam-diam memendam rasa dendam kepada Abu Nawas. Setelah bertemu dengan raja , maka ia pun menceritakan perihal maksud kedatangannya.
"Yang mulia , aku ingin melaporkan perbuatan buruk salah satu orang kepercayaan Anda , "kata si Fulan.
"Siapakah dia dan apa yang telah diperbuatnya? "tanya raja.
"Dia adalah orang kepercayaan Paduka , yaitu Abu Nawas. Dia telah melakukan perbuatan keji , yaitu mencuri kalung emas saya , "jawab si Fulan.
Raja pun terkejut , dan meminta si Fulan menceritakan kronologisnya.
"Begini yang mulia , sepertinya Abu Nawas sudah lama mengincar kalung emas saya. Awalnya ia ingin memebeli kalung tersebut , namun hamba tidak ingin menjualnya , "terang si Fulan.
Mendengar hasutan orang tersebut , Abu Nawas pun langsung dipanggil ke istana. Sesampainya di istana , raja memerintahkan prajurit untu memenjarakan Abu Nawas.
"Tunggu sebentar Paduka , sebenarnya ini ada apa hingga pada begitu marah kepada saya , "bela Abu Nawas sembari kebingungan.
Mendengar ucapan Abu Nawas tersebut , raja langsung murka ,
"Berani sekali kamu bertanya seperti itu , bukankah kamu sudah mencuri kalung si Fulan?" bentak raja sambil menunjuk si Fulan yang tak jauh dari raja.
"Tidak Paduka , untuk apa saya mencuri kalungnya? "bantah Abu Nawas.
Abu Nawas mulai sadar bahwa dirinya telah difitnah.
"Buktinya , orang ini membawa selendang milikmu , dan aku pernah melihatnmu memakainya , "kata raja.
Abu Nawas memang pemilik selendang tersebut , namun sudah dua hari lamanya selendang tersebut hilang dicuri oleh seseorang.
Dia sudah mencoba menjelaskan beberapa kali sampai lama , namun kayaknya usahanya sia-sia saja.
Pada keesokan harinya , dan karena banyaknya hasutan yang dilontarkan si Fulan kepada raja , akhirnya Abu Nawas dijatuhi hukuman mati. Selain itu , baginda juga ingin menguji kepandaianh Abu Nawas dalam perkara ini.
Saatnya hukuman mati diberikan. Sesaat sebelum hukuman mati dilaksanakan , raja sempat menanyakan apa permintaan terakhir Abu Nawas ini.
Dan oh ternyata saat-saat ini yang palking ditunggu oleh Abu Nawas. Abu Nawas minta agar diberi kesempatan untuk memilih hukuman mati dirinya.
"Hamba minta bila pilihan hamba benar , hamba bersedia dihukum pancung. Tapi jika pilihan hamba dianggap salah , maka hamba dihukum gantung saja , "kata Abu Nawas memohon.
"Engkau ini memang orang yang aneh. Saat-saat genting pun masih saja sempat bersenda gurau. Akan tetapi , dsegala tipu muslihatmu tidak akan bisa menyelematkanmu , "ujar baginda.
"Hamba tidak bersenda gurau , Paduka , "kata Abu Nawas.
Raja pun semakin terpingkal-pingkal dibuatnya. Namun belum selesai raja tertawanya , Abu Nawas berteriak dengan nyaring.
"Hamba minta dihukum pancung !" "Hamba minta dihukum pancung !"
Semua orang yang hadir saat itu dibuat kaget. Mereka bertanya-tanya kenapa Abu Nawas membuat keputusan seperti itu. Sementara itu raja mulai curiga dan sekaligus mulai berpikir tentang kalimat permintaan terakhir dari Abu Nawas tadi.
"Baginda , hamba tadi mengatakan bahwa hamba akan dihukum pancung.Kalau pilihsn hamba benar , maka hamba dihukum pancung. Tetapi dimanakah letak kesalahan pilihan hamba , hingga hamba harus dihukum gantung. Padahal hamba kan memilih dihukum pancung?" jelas Abu Nawas.
Tak disangka olah kata Abu Nawas membuat raja tercengang dan menyadrinya. Dalam hati , raja mengakui kehebatan Abu Nawas. Dan selanjutnya , masalah tersebut masih diusut lagi.
Serlang beberapa hari kemudian , ternyata Abu Nawas hanya difitnah saja oleh si Fulan.
Akankah Abu Nawas mampu menyelesaikan perkara ini? Berikut kisahnya.
Pada suatu hari , si Fulan datang ke istana Raja Harun Ar Rasyid. Dia ini diam-diam memendam rasa dendam kepada Abu Nawas. Setelah bertemu dengan raja , maka ia pun menceritakan perihal maksud kedatangannya.
"Yang mulia , aku ingin melaporkan perbuatan buruk salah satu orang kepercayaan Anda , "kata si Fulan.
"Siapakah dia dan apa yang telah diperbuatnya? "tanya raja.
"Dia adalah orang kepercayaan Paduka , yaitu Abu Nawas. Dia telah melakukan perbuatan keji , yaitu mencuri kalung emas saya , "jawab si Fulan.
Raja pun terkejut , dan meminta si Fulan menceritakan kronologisnya.
"Begini yang mulia , sepertinya Abu Nawas sudah lama mengincar kalung emas saya. Awalnya ia ingin memebeli kalung tersebut , namun hamba tidak ingin menjualnya , "terang si Fulan.
Mendengar hasutan orang tersebut , Abu Nawas pun langsung dipanggil ke istana. Sesampainya di istana , raja memerintahkan prajurit untu memenjarakan Abu Nawas.
"Tunggu sebentar Paduka , sebenarnya ini ada apa hingga pada begitu marah kepada saya , "bela Abu Nawas sembari kebingungan.
Mendengar ucapan Abu Nawas tersebut , raja langsung murka ,
"Berani sekali kamu bertanya seperti itu , bukankah kamu sudah mencuri kalung si Fulan?" bentak raja sambil menunjuk si Fulan yang tak jauh dari raja.
"Tidak Paduka , untuk apa saya mencuri kalungnya? "bantah Abu Nawas.
Abu Nawas mulai sadar bahwa dirinya telah difitnah.
"Buktinya , orang ini membawa selendang milikmu , dan aku pernah melihatnmu memakainya , "kata raja.
Abu Nawas memang pemilik selendang tersebut , namun sudah dua hari lamanya selendang tersebut hilang dicuri oleh seseorang.
Dia sudah mencoba menjelaskan beberapa kali sampai lama , namun kayaknya usahanya sia-sia saja.
Dipancung atau Digantung ?
Pada keesokan harinya , dan karena banyaknya hasutan yang dilontarkan si Fulan kepada raja , akhirnya Abu Nawas dijatuhi hukuman mati. Selain itu , baginda juga ingin menguji kepandaianh Abu Nawas dalam perkara ini.
Saatnya hukuman mati diberikan. Sesaat sebelum hukuman mati dilaksanakan , raja sempat menanyakan apa permintaan terakhir Abu Nawas ini.
Dan oh ternyata saat-saat ini yang palking ditunggu oleh Abu Nawas. Abu Nawas minta agar diberi kesempatan untuk memilih hukuman mati dirinya.
"Hamba minta bila pilihan hamba benar , hamba bersedia dihukum pancung. Tapi jika pilihan hamba dianggap salah , maka hamba dihukum gantung saja , "kata Abu Nawas memohon.
"Engkau ini memang orang yang aneh. Saat-saat genting pun masih saja sempat bersenda gurau. Akan tetapi , dsegala tipu muslihatmu tidak akan bisa menyelematkanmu , "ujar baginda.
"Hamba tidak bersenda gurau , Paduka , "kata Abu Nawas.
Raja pun semakin terpingkal-pingkal dibuatnya. Namun belum selesai raja tertawanya , Abu Nawas berteriak dengan nyaring.
"Hamba minta dihukum pancung !" "Hamba minta dihukum pancung !"
Semua orang yang hadir saat itu dibuat kaget. Mereka bertanya-tanya kenapa Abu Nawas membuat keputusan seperti itu. Sementara itu raja mulai curiga dan sekaligus mulai berpikir tentang kalimat permintaan terakhir dari Abu Nawas tadi.
"Baginda , hamba tadi mengatakan bahwa hamba akan dihukum pancung.Kalau pilihsn hamba benar , maka hamba dihukum pancung. Tetapi dimanakah letak kesalahan pilihan hamba , hingga hamba harus dihukum gantung. Padahal hamba kan memilih dihukum pancung?" jelas Abu Nawas.
Tak disangka olah kata Abu Nawas membuat raja tercengang dan menyadrinya. Dalam hati , raja mengakui kehebatan Abu Nawas. Dan selanjutnya , masalah tersebut masih diusut lagi.
Serlang beberapa hari kemudian , ternyata Abu Nawas hanya difitnah saja oleh si Fulan.
